Tuesday, 20 December 2016

#13 no title

So I ask, what's the point?

What's the point of being in love with someone, or having dearest friends, if in the end everybody will change, if things won't stay the same, if they eventually will leave you all alone and just like that you will find yourself brokenhearted?

What's the point of feeling the love, being connected to people, developing care about others, if you know you'll just end up no more seeing them in your life, and then you'll be crushed because it's as if part of you were missing, as if your utmost core were stolen, because there will be nobody you can harbor those feelings to feel relieved, there will be no one there for you eventually?

Tuesday, 4 October 2016

Ego dan Kapitalisme

Also published in: http://www.qureta.com/post/ego-dan-kapitalisme October 3, 2016

sumber: http://orig08.deviantart.net
Dalam filsafat Buddhisme, disebutkan bahwa yang menyebabkan seseorang tidak dapat lepas dari roda tumimbal lahir adalah terdapatnya kotoran batin yang merupakan bibit dari kelahiran itu sendiri, sehingga seseorang akan terus terlahir merasakan penderitaan di dalam samsara (siklus kelahiran-kematian).

Disebutkan bahwa kotoran batin yang paling dasar dan paling sulit dikikis adalah ego atau keakuan. Ego atau keakuan inilah yang kemudian akan melahirkan kotoran batin dan penderitaan lain, seperti keserakahan, konflik sosial, kebencian, serta iri hati.

Dalam budaya konsumerisme, ego ini adalah instrumen halus yang menggerakan pasar kapitalisme. Ego merupakan alasan seseorang berperilaku konsumtif. Baik demi status sosial ataupun menikmati kemewahan dan kenyamanan, ego inilah yang sesungguhnya dijual dan ditawarkan oleh industri kapitalis melalui beragam barang dan jasa dengan harga yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang memiliki cukup uang.

Monday, 19 September 2016

Sastra di Tengah Budaya Sosialita

Also published in: http://www.qureta.com/post/sastra-di-tengah-budaya-sosialita September 18, 2016 

Artikel yang berjudul “Sastrawan Sosialita” yang dimuat oleh Koran Republika pada tanggal 8 Mei 2016 telah menarik banyak perbincangan hingga saat ini tidak hanya di kalangan para penulis, tapi juga kalangan pembaca (dan membuat si penulisnya menjadi cukup kontroversial). Ada begitu banyak argumen pro yang dilontarkan untuk mendukung pendapat si penulis artikel tersebut, namun tidak sedikit pula pembahasan dan argumen kontra dari kalangan penulis dan pembaca.

Karena sudah begitu banyak komentar dari berbagai pihak, cukup sulit menurut saya untuk menyampaikan opini agar tidak menjadi argumentum ad populum et hominem, khususnya mengingat tidak sedikit komentar-komentar baik melalui media sosial ataupun dalam diskusi-diskusi pribadi antara pembaca yang telah menyerang pribadi penulis artikel “Sastrawan Sosialita”.

Monday, 12 September 2016

Semangat Kemanusiaan dalam Tradisi Kurban


Pada hari raya Idul Adha bagi umat Muslim, selain merayakan peristiwa Haji, yang tak kalah pentingnya adalah memperingati kisah Nabi Ibrahim (Abraham dalam bahasa Ibrani di ajaran Yahudi dan Kristiani) dan Nabi Ismail (Ismael dalam bahasa Ibrani di ajaran Yahudi dan Kristiani) dengan berkurban.

Kurban, secara khusus dalam tradisi Islam, diartikan sebagai persembahan kepada Allah (seperti biri-biri, sapi, atau unta pada hari Lebaran Haji). Tradisi ini merupakan bagian dari salah satu bentuk ibadah atau ritual keagamaan dalam Islam. Tak heran di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, setiap menjelang Idul Adha akan kita temukan banyak orang mendadak berjualan kambing dan sapi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Thursday, 1 September 2016

Kebebasan Beragama versus Iman Mayoritas

Menyoal Intimidasi dan Alienasi oleh Penganut Agama Samawi


Also published in: http://www.qureta.com/post/kebebasan-beragama-versus-iman-mayoritas August 31, 2016

Foto: commons.wikimedia.org
Hidup di negara dengan mayoritas penduduk pemeluk agama samawi — yang masing-masing dari agama samawi tersebut seringkali mengklaim bahwa Tuhan dan ajarannya adalah satu-satunya yang paling benar di muka bumi — mempertanyakan dan memaparkan fakta-fakta yang bisa jadi bertentangan dengan agama tersebut dianggap sebagai hal tabu dan dosa, kalau bukan penistaan terhadap agama.

Tidak jarang pengetahuan akan sains modern dan penemuan arkeologi dianggap sebagai antitesis terhadap ajaran agama, dan karenanya tidak boleh dijadikan landasan pandangan hidup, apalagi dasar pencarian atas kebenaran.

Sunday, 21 August 2016

Tentang Dia dan Secangkir Kopinya

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Sore menjelang malam itu aku diundang makan di sebuah restoran oleh kenalanku yang berulang tahun. Tidak banyak yang dia undang, hanya 6 orang termasuk dirinya. Dia tidak memiliki banyak teman dan kenalan sehingga untuk sebuah makan malam ulang tahun jumlah 6 orang itu termasuk sedikit. Bahkan aku baru berkenalan dengannya 2 hari yang lalu. Seandainya aku menolak berarti hanya ada 5 orang yang hadir di acara itu.

Di acara makan itu, hanya ada dua orang yang sudah aku kenal, yang berulang tahun dan temanku yang dua hari sebelumnya mengenalkan aku pada yang berulang tahun. Tiga orang lagi aku baru saja berkenalan dengan mereka pada saat itu. Salah satu di antara mereka adalah seorang yang akan aku ceritakan dalam kisah ini, yang membuatku tertarik pada pertemuan pertama sehingga kami berkenalan lebih jauh setelahnya.